Utang merupakan tindakan pinjan meminjam yang sifatnya harus dikembalikan sesuai kesepakatan antara penerima pinjaman (debitur) dan pemberi pinjaman (kreditur). Dalam kesepakatan antara kedua belah pihak biasanya menyangkut jangka waktu dan bunga utang atau imbal hasil.
Berkaitan dengan imbal hasil, utang sangat berbeda dengan investasi. Dalam investasi kewajiban memberi imbal hasil investasi bisa naik atau turun dari harapan semula. Sementara pada utang, imbal hasil atau bunga besarnya tetap dalam kondisi apapun.
Karena utang harus dikembalikan dalam kondisi apapun maka sebaiknya pengembalian utang harus memenuhi kaidah kerja produktif, konstruktif, bukan konsumtif.
Sebelum memilih berutang sebaiknya pertimbangkan beberapa faktor berikut ini:
1. Penggunaan dana utang perlu diperhatikan secara cermat. Ada tiga kemungkinan alokasi penggunaan dana pinjaman, yaitu:
- Penggunaan produktif yakni utang untuk modal usaha atau modal investasi.
- Penggunaan konsumtif yakni utang untuk membeli barang-barang yang digunakan tanpa ada aktifitas.
- Penggunaan konstruktif yakni utang digunakan untuk membayar utang lama dengan bunga dan cicilan yang lebih tinggi.
2. Kemampuan membayar cicilan dengan memperhatikan jangka waktu pinjaman, suku bunga utang, dan uang muka yang dibayar (jika ada).
3. Manajemen risiko atas utang. Misalnya debitur meninggal dunia maka utang harus sudah dilindungi dengan asuransi jiwa dengan uang tanggungan minimal sama dengan jumlah utang tersebut.
Jika Anda terdesak dengan utang yang harus dibayar sebaiknya jangan berutang lagi terlebih dengan suku bunga yang lebih tinggi dan jangka waktu yang singkat. Sebaiknya bicarakan masalah ini dengan pihak Bank untuk mendapat keringanan.
Lalu kapan waktu yang tepat untuk berutang? Utang untuk penggunaan produktif berpotensi menambah aset kita. Dalam hal ini utang berguna sebagai pengungkit dan berdampak pada pertumbuhan aset secara signifikan.
Sumber: bisniskeuangan.kompas.com



