Properti telah menjadi kebutuhan masyarakat di semua segmen. Nilai pertumbuhannya cukup baik meski pasar properti melambat dan banyak yang takut harga properti jatuh. Nah, para pengembang berlomba-lomba untuk membangun strategi agar bisnis propertinya berkembang sesuai harapan. Inilah hal-hal yang biasanya menjadi pertimbangan para pengembang properti.

Pertama, lokasi yang layak. Kali pertama yang dilakukan oleh pengembang adalah mencari lokasi yang layak. Banyak faktor yang bisa dijadikan patokan antara lain lokasi, harga, bentuk lahan, status lahan, atau cara pembayaran.

Lokasi dan harga dasar akan memengaruhi segmentasi pasar, bentuk lahan akan memengaruhi efektivitas komersil, status lahan akan memengaruhi percepatan proses perizinan dan cara pembayaran memengaruhi besaran modal yang harus disediakan.

Layak atau tidak sebuah lokasi juga berhubungan dengan bisa atau tidak dibangun perumahan. Hal ini dapat disurvei ke dinas terkait yaitu Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda).

Kedua, master plan. Dalam master plan terdapat site plan atau gambar kawasan yang terdiri dari beberapa kaveling komersil, fasilitas umum, gambar jalan, lebar jalan dan lebar kaveling. Untuk bagian ini, para pengembang juga bisa menggunakan jasa konsultasn perencanaan.

Ketiga, perizinan. Perizinan di satu daerah dengan daerah lainnya dapat berbeda-beda. Jika satu daerah memiliki dinas satu atap, maka mengurus perizinan akan mudah. Tapi jika tidak, izin harus diburu ke beberapa tempat seperti Badan Pertanahan Nasional (BPN), Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda), dan Dinas Permukiman dan Prasarana Wilayah (Kimpraswil).

Keempat, pemasaran. Banyak cara yang dilakukan dalam mempromosikan atau memasarkan properti. Yang sering kita lihat yaitu melalui media spanduk, papan reklame, umbul-umbul, iklan koran, website, pameran, brosur dan referensi.

Sumber: 2013, Benny Lo dalam ‘’Jangan Beli Properti Sebelum Baca Buku Ini’’ halaman 107-109.

Bagikan melalui