Emas merupakan logam mulia yang mahal dan paling diterima di seluruh dunia. Harga emas akan mengikuti kenaikan mata uang negara-negara maju seperti Amerika, Jepang, Jerman, Inggris, Italia, Kanada, dan Perancis. Semakin tinggi kenaikan nilai mata uang asing tersebut, semakin tinggi pula harga emas.

Harga logam mulia ini juga berbanding searah dengan inflasi. Semakin tinggi inflasi, biasanya akan semakin tinggi pula kenaikan harga emas. Bahkan seringkali kenaikan harga emas melampaui kenaikan inflasi itu sendiri.

Oleh karena itu, banyak orang menjadikan emas sebagai sarana investasi jangka panjang. Mereka menyimpan uang dalam bentuk emas, dan bila membutuhkan uang, emas tersebut lantas dijual. Namun, emas yang sedang kita bicarakan ini merupakan logam mulia yang masih berbentuk batangan. Emas batangan memiliki nilai yang lebih menjanjikan dijadikan barang investasi ketimbang perhiasan emas.

Alasannya, perhiasan emas telah dilengkapi dengan permata atau batu-batuan lain untuk menambah keindahan. Itu berpotensi mengurangi laba investasi karena mudah tergores, apalagi bila batu permatanya copot atau hilang.

Sebelum memutuskan berinvestasi emas, ada baiknya Anda mengetahui faktor yang memengaruhi harga emas.

Pertama, inflasi. Kondisi saat mata uang mengalami penurunan (inflasi) mendorong naiknya harga emas.

Kedua, krisis finansial. Keadaan ini membuat orang jeli dalam memilih investasi. Mereka akan mencari yang aman dan memberikan keuntungan seperti berinvestasi dengan emas.

Ketiga, naiknya permintaan emas di pasar lokal. Harga emas dapat naik karena permintaan emas mengalami peningkatan.

Keempat, kurs dollar. Karena harga emas dihitung berdasarkan kurs dollar, maka jika dollar mengalmi kenaikan, harga emas ikut naik.

Kelima, harga minyak. Minyak tak hanya bisa dibeli dengan mata uang tapi juga dengan emas. Jadi, jika harga minyak naik, harga emas pun ikut naik.

(Sumber: 2013, Adi Setiawan Marsis dalam ‘’Rahasia Terbesar Investasi’’ halaman 62-63)

Bagikan melalui