Uang bukan segalanya, tetapi segala hal butuh uang. Ungkapan tersebut memang agak sedikit kurang enak didengar, tapi tidak sepenuhnya salah. Memang benar uang bukan segalanya, tapi jika dianggap sebagai pengingat, ungkapan tersebut juga dapat berarti positif: pengingat untuk menyisihkan uang untuk ditabung.
Menabung bukan hal yang mudah untuk dilakukan. Banyak orang mengaku kesulitan menabung karena punya kebiasaan mengatur keuangan buruk. Umumnya karena masih terpengaruh stigma “gaya hidup” lebih penting daripada menabung. Alhasil, persentase gaji bulanan akan tersedot lebih besar untuk pemenuhan gaya hidup ketimbang kebutuhan menabung.
Umumnya rumus yang digunakan untuk menabung adalah gaji bulanan disisihkan sebesar 30 persen untuk tabungan, baru sisanya digunakan untuk berbagai kebutuhan mulai cicilan, harian, hingga foya-foya. Agar rumus tersebut dapat diterapkan sebaik mungkin, ada kebiasaan yang harus diubah agar rencana menabung tidak terganggu, di antaranya adalah sebagai berikut.
Anda mungkin adalah seseorang yang bisa dibilang “gaul” untuk ukuran masyarakat urban. Uang gaji yang Anda terima juga digunakan untuk memenuhi kebiasaan nongkrong dengan teman.
Kebutuhan sosial seperti nongkrong memang perlu untuk menghindarkan Anda dari stres hidup perkotaan. Sayangnya, kebiasaan ini memakan banyak biaya.
Oleh karena ini, kebiasaan ini harus diubah. Tidak harus sampai nongkrong ditiadakan, tetapi dikurangi sebanyak mungkin agar pengeluaran lebih terkontrol.
Jangan tunda menabung saat anda sudah menerima gaji. Kebiasaan menunda menabung memperbesar resiko gagal menabung. Untuk mengatasi kebiasaan ini, anda bisa menerapkan trik “paksaan” pada keuangan anda.
Terakhir, jika sudah menetapkan target finansial, anda harus termotivasi menabung agar tujuan anda terpenuhi dan anda tidak jatuh ke godaan untuk menghabiskan uang.
#tabunganmasadepan




