Meminjam sejumlah uang di Bank memang tidak disarankan untuk kegiatan konsumtif. Namun ketika kita hendak menjalankan suatu usaha produktif, sedangkan kita belum cukup memiliki modal untuk menjalankanya, maka hutang di Bank dapat menjadi alat untuk mendorong kegiatan produktif kita.
Mungkin beberapa dari kita masih belum paham mengenai ketentuan Bank untuk menyetujui atau menolak pengajuan kredit kita. Salah satu proses yang cukup mempengaruhi hal ini adalah proses survei yang biasanya dilakukan oleh Credit Analiyst. Maka dari itu kali ini kita akan membahas mengenai beberapa prinsip dasar yang digunakan oleh Credit Analiyst untuk menyetujui atau tidak pengajuan kredit kita.
Character
Prinsip ini dilihat dari segi kepribadian calon debitur. Credit Analiyst bisa melihat hasil wawancara dari Customer Service kepada calon debitur yang hendak mengajukan kredit, mengenai latar belakang, kebiasaan hidup, pola hidup calon debitur, dan lain-lain. Inti dari prinsip character ini ialah menilai calon calon debitur apakah bisa dipercaya dalam menjalani kerja sama dengan bank. Namun setiap Credit Analiyst Bank tentu memiliki metode sendiri-sendiri dalam menilai karakter calon nasabah. Asalkan kita jawab dengan jujur dan penuh optimis pada perkembangan bisnis kita, maka Anda tidak perlu khawatir.
Capacity
Prinsip ini menilai calon debitur atas kemampuannya dalam menjalankan keuangan, baik sebagai karyawan maupun pengusaha. Apakah calon debitur pernah mengalami permasalahan keuangan sebelumnya atau tidak. Dengan begitu, Bank bisa mengetahui kemampuan calon debitur dalam membayar kredit, termasuk BPR Jawa Tengah. Untuk mengukur Capacity, hitung dan bandingkan pemasukan dan pengeluaran setiap bulan. Ingat, bila Anda ingin pengajuan kredit disetujui, usahakan agar seluruh cicilan kredit yang ditanggung tidak menghabiskan 30% dari pemasukan.
#bprjawatengah




