Saat ini, utang sudah hampir seperti gaya hidup. Dimana-mana kita akan menemui banyak sekali toko atau penjual yang menawarkan utang. Maka gaya hidup masyarakat pun berubah. Kecenderungan untuk memiliki barang secara kredit sudah menjadi budaya yang terus berkembang. Hubungan saling tarik menarik antara penjual dan pembeli pun terjadi. Penjual akan menawarkan barang untuk dapat dibayar kredit oleh pembeli, dan pembeli memilih meninggalkan toko yang tidak melayani pembelian kredit. Ini membuat budaya utang menjadi semakin subur.

Risiko ketidakmampuan untuk membayar utang akan lebih memberatkan pihak pemberi utang. Maka kita pun sering mendengar bagaimana perselisihan atau kasus yang terjadi antara pemberi utang dengan pihak yang berhutang. Jika kita tidak berhati-hati dalam berhutang maka akan menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Kita tentu harus mengetahui kapasitas pribadi kita. Ketika nominal semua utang kita lebih tinggi daripada penghasilan kita, maka tinggal tunggu waktu bahwa masalah akan terjadi.

Budaya menabung harusnya lebih berkembang daripada budaya berhutang. Banyak masyarakat tidak sadar akan pentingnya mempersiapkan tabungan masa depan untuk kekuatan finansialnya di masa depan. Padahal sampai ada yang namanya deposito berhadiah guna menarik minat masyarakat untuk menabung.

Masalah pertama mengapa seseorang sulit keluar dari hutang adalah walaupun penghasilan bertambah, namun keinginan juga bertambah. Ketika memutuskan untuk mengambil utang, seringkali kita lebih terdorong oleh rasa kurangnya penghasilan atau mepetnya tabungan yang kita miliki. Namun, tidak jarang ternyata keputusan untuk mengambil utang disebabkan oleh banyaknya keinginan yang ingin kita penuhi, sehingga seolah-olah penghasilan kita saat ini tidak pernah cukup.

Bagikan melalui