Orang-orang yang akan terjun ke lantai bursa, sebaiknya mengenal baik siapa itu Warren Buffet. Ia adalah seorang investor tersukses abad 20. Ia dikenal cerdik dalam bertransaksi di bursa saham. Buffet mengekspresikan bakatnya yang istemewa dalam bermain saham melalui Bershire Hathaway, sebuah induk perusahaan investasi publik.
Untuk para investor, ia pernah berkata, ‘’prinsip utama yang perlu dipegang teguh oleh setiap investor agar bisa sukses berinvestasi saham ialah mendengarkan bisikan firasat (kecerdasan emosional=EQ) dan menggunakan nalar (kecerdasan intelektual=IQ). Kedua kecerdasan itu harus digunakan bersamaan sehingga dapat membuat keputusan yang akurat.’’
Buffet mengatakan, agar sukses di bursa saham, setiap investor harus memilih saham yang prospektif atau saham yang berpotensi bertumbuh secara konsisten dalam periode waktu yang panjang. Mencermati tren pertumbuhan profit perusahaan, khususnya EPS (earning per share) atau laba per sahamnya adalah salah satu cara untuk dapat menentukan apakah suatu saham prospektif atau tidak.
Perusahaan yang mempunyai tingkat pertumbuhan EPS-nya kecil, misalnya urang dari 15%, lebih berpeluang untuk mempertahankan tren pertumbuhan profit secara jangka panjang. Sebaliknya, perusahaan yang membukukan tingkat pertumbuhan profitnya tinggi pada masa sekarang, berpeluang mengalami stagnasi atau kemrosotan profit pada masa datang. Alasannya,kesuksesan yang dicapai sebuah perusahaan merangsang perusahaan lain untuk melakukan persaingan.
Meski demikian, belakangan ini berkembang tren yang menganjurkan agar tak hanya mengandalkan EQ dan IQ, tetapi juga SQ alias kekuatan spiritual. Peran SQ dalam mengambil keputusan bukanlah suatu hal baru. Melakukan keputusan investasi sembari memberi tempat secara benar pada ketiga unsur tersebut membawa para investor ke pengambilan keputusan investasi yang bijak.
(Sumber: 2008, Budi Purnomo & Maxi A Perajaka dalam ‘’Awas! Jangan Sampai Modal di Pasar Modal’’ halaman 1-4)




