Satu hal yang kadang membuat seorang pebisnis pemula adalah keengganannya untuk memperhatikan cash flow (aliran kas) usaha yang ia bangun. Padahal, aliran kas itu penting, salah satunya guna mengukur seberapa besar kemampuan bisnisnya berkembang.
Cash flow atau biasa disebut aliran kas merupakan sejumlah uang kas yang keluar dan masuk sebagai akibat dari aktivitas perusahaan. Jadi, bisa dikatakan cash flow merupakan aliran kas yang terdiri dari aliran masuk dan aliran kas keluar perusahaan, serta berapa saldonya dalam tiap periode.
Hal utama dan mendasar yang perlu selalu diperhatikan dalam mengatur arus kas adalah memahami dengan jelas fungsi dana atau uang yang kita miliki, simpan, atau investasikan. Sebagaimana kita tahu, secara sederhana akan ada tiga fungsi mengatur aliran dana tersebut, yakni untuk likuiditas, anti-inflasi, dan capital growth.
Fungsi likuiditas adalah saat dana yang tersedia digunakan untuk tujuan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dana yang dialokasian tentu saja harus dapat dicairkan dalam waktu singkat dan relatif tanpa ada pengurangan investasi awal.
Fungsi anti-inflasi berarti dana disimpan guna menghindari risiko penurunan nilai sebagai dampak inflasi. Hal itu berfungsi guna menghindari penurunan daya beli di masa datang. Namun, dana yang dialokasikan juga harus dapat dicairkan dengan relatif cepat.
Dan, fungsi terakhir adalah capital growth. Dana yang dialokasikan di sini masuk kategori investasi jangka panjang. Artinya, dana itu memang khusus berfungsi sebagai penambah atau pengembang kekayaan. Tentu saja dana di sini biasanya baru dapat dicairkan dalam rentang waktu yang relatif panjang.
Jadi, kita harus benar-benar tahu ke mana kita akan mengalirkan dana, dan bagaimana membagi aliran dana tersebut agar tiga fungsi itu dapat terpenuhi. Dengan cara itu, kita akan lebih tahu seberapa besar kekuatan kita untuk membangun dan mengembangkan bisnis kita, lengkap dengan rentang waktu yang kita inginan.
Lalu, apa saja yang harus dilakukan untuk melihat cash flow? Yang pertama, tentu saja Anda harus menentukan minimum kas. Selain itu, Anda juga harus menyusun estimasi penerimaan dan pengeluaran.
Setelah dua hal itu tersusun rapi, jangan lupa menambahkan perkiraan kebutuhan dana dari hutang untuk menutupi defisit kas dan membayar kembali pinjaman dari pihak ketiga. Terakhir, jangan lupa menyusun kembali keseluruhan penerimaan dan pengeluaran setelah adanya transaksi finansial dan dana kas akhir.
Sumber: ilmumanajemen.wordpress.com




