Banyak hal yang dilakukan orang untuk menyimpan uang dan menanamkan modalnya. Salah satu caranya dengan berinvestasi. Kegiatan ini pun banyak macamnya seperti menanam modal berupa tanah, rumah, menabung di bank, jual-beli saham, emas, bahkan membuka usaha sendiri.
Dari sekian banyak bentuk investasi masing-masing memiliki profil risiko. Profil risiko adalah ukuran kekuatan kita dalam berinvestasi. Berdasarkan pertimbangan itu, Anda cenderung tertarik memilih yang mana? Tilik tipe investor seperti apakah Anda jika dikaitkan dengan profil risiko.
Pertama, tipe devensive. Ini adalah investor yang berusaha mendapatkan keuntungan dan menghindari risiko sekecil mungkin. Investor jenis ini tidak cukup yakin dalam berspekulasi dan memilih waktu yang tepat untuk berinvestasi sehingga kemungkinan resiko yang akan muncul sangat kecil.
Kedua, tipe conservative. Ini adalah investor yang bertujuan meningkatkan kualitas kehidupan untuk jangka panjang, misalnya, untuk pendidikan anak dan bekal hari tua. Tipe ini memang sering berinvestasi, tapi pada umumnya mengalokasikan sedikit waktu untuk melakukan analisis dan mempelajari portofolio investasi. Tipe seperti ini biasanya memilih menabung di bank atau deposito.
Ketiga, tipe balanced. Ini adalah investor yang lebih memilih resiko investasi menengah. Ia cenderung memperhitungkan keseimbangan antara risiko yang akan muncul dan hasil yang akan diperoleh. Tipe ini cocok untuk memilih investasi dalam bentuk reksadana dan saham.
Keempat, tipe moderately aggressive. Ini adalah model investor yang tenang dan tidak ekstrim dalam menghadapi risiko berinvestasi. Ketenangan tersebut dikarenakan keputusan yang diambil sudah dipikirkan sebelumnya.
Kelima, tipe aggressive. Ini adalah tipe yang berkebalikan dengan tipe conservative. Ia sangat teliti dalam menganalisis dan portofolio yang dipunyainya. Semakin banyak angka dan fakta yang ditemukan berarti semakin baik.
Nah, kini sudahkah Anda tahu seberapa besar kekuatan mental dan finansial Anda dalam menentukan investasi? Selamat berinvestasi.
(Sumber: 2013, Adi Setiawan Marsis dalam ‘’Rahasia Terbesar Investasi’’ halaman 9-10)




